Tampilkan postingan dengan label Fitohormon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fitohormon. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2011

PENGARUH HORMON DALAM ABSISI

ACARA VI
PENGARUH HORMON DALAM ABSISI

A.                 TUJUAN
Untuk mengetahui pengaruh hormon dalam absisi

B.                 ALAT DAN BAHAN
1.      Lanolin
2.      IAA
3.      Tanaman Coleus sp. Atau Teh-tehan (mempunyai tangkai daun berhadapan)
4.      Tusuk gigi

C.                 CARA KERJA
1.      Larutan IAA dibuat 100 ppm dalam lanolin
2.      Diletakkan di cawan dan diberi label
3.      Disiapkan tanaman dalam berbagai perlakuan :
a)      Daun dipotong di sisi kanan batang tepat pada pangkal daun
b)      Daun sisi kiri dan kanan batang dipotong
c)      Dipotong seperti (a) dan bekas potongan diberi lanolin +IAA
d)      Dipotong seperti (b) dan bekas potongan diberi lanolin+IAA
e)      Dibuat seperti a, b, c, dan d tetapi ujung batang dipotong tunasnnya
f)        Dibuat control tanaman utuh tanpa perlakuan

D.                 HASIL
Pasta lanolin+IAA dioleskan setiap lima hari sekali. Pengamatan dihentikan setelah semua tangkai yang dipotong gugur. Setiap hari diamati tangkai yang gugur.



Tanggal 1 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A

Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur sebelah
Gugur semua
C
Gugur yang dipotong daunnya+IAA


D


Gugur sebelah
Ea
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Eb

Gugur semua
Gugur sebelah
Ec

Gugur sebelah

Ed

Gugur sebelah
Gugur semua
Kontrol


Gugur semua

Tanggal 2 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
C
Gugur yang dipotong daunnya+IAA
Tidak gugur
Tidak gugur
D
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur sebelah
Ea
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Eb
Gugur sebelah
Gugur semua
Gugur sebelah
Ec
Tidak gugur
Gugur sebelah
Tidak gugur
Ed
Tidak gugur
Gugur sebelah
Gugur semua
Kontrol
Tidak gugur
Tidak gugur
Tidak gugur

Tanggal 4 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
C
Gugur
Tidak gugur
Melengkung
D
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur satu
Ea
Gugur
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Eb
Gugur satu
Gugur semua
Gugur satu
Ec
Tidak gugur
Gugur satu
Tidak gugur
Ed
Tidak gugur
Gugur sebelah
Gugur semua
Kontrol
Tidak gugur
Tidak gugur
Tidak gugur

Tanggal 10 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
C
Gugur yang dipotong
Tidak gugur
Gugur semua
D
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur semua
Ea
Gugur yang dipotong
Gugur yang dipotong
Gugur yang dipotong
Eb
Gugur satu
Gugur semua
Gugur semua
Ec
Tidak gugur
Gugur yang dipotong
Gugur satu
Ed
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
Kontrol
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur satu

  1. PEMBAHASAN
Auksin berasal dari bahasa Yunani “Auxano” yang berarti tumbuh atau bertambah. Auksin merupakan golongan dari substansi permacu pertumbuhan tanaman dan morfogen (fitohormon) yang paling awal ditemukan. Salah satu anggota dari auksin yang paling dikenal adalah IAA. Suatu system sel tumbuhan memerlukan auksin untuk pertumbuhan, pembagian tugas (divisi) maupun ekspansi selular. Fungsi auksin tergantung pada jaringan yang spesifik; seperti pada batang, akar, dan buah. Auksin dapat memacu pemanjangan apical batang, ekspansi lateral rambut akar, atau ekspansi isodiametrik dalam pertumbuhan buah. Beberapa kasus (pertumbuhan koleoptil), auksin memacu ekspansi selular tanpa adanya pembagian divisi dalam sel tersebut. Kasus lainnya, auksin dapat mendorong pembagian divisi dan ekspansi sel dalam jaringan yang sama seperti inisiasi akar.
Auksin sangat berperan penting dalam dominasi tunas apikal, merupakan sebuah fenomena dari pusat percabangan tumbuhan yang tumbuh lebih dominan daripada percabangan lainnya. Tunas apikal adalah bagian yang memproduksi hormon auksin yang dapat berdifusi ke bawah dan menunjang pertumbuhan tunas lateral, dilain pihak pertumbuhan ini akan menimbulkan kompetisi pada tunas apikal terhadap cahaya matahari dan nutrisi. Apabila prinsip dari dominasi apikal dapat dipahami, maka akan sangat membantu dalam manajemen tumbuhan. Manajemen tumbuhan dapat berupa memanipulasi respon natural, seperti pengaruh hormone auksin ini untuk menghasilkan tumbuhan yang dapat diatur ukuran, bentuk, maupun produktivitas buahnya (http://en.wikipedia.org).
Sekilas, peristiwa gugurnya dedaunan tumbuhan tampak seperti kejadian alam biasa. Namun ternyata tidak demikian bagi para ilmuwan, yang meneliti sungguh-sungguh fenomena yang diistilahkan dengan “abscission” ini. Abscission adalah suatu proses yang dilakukan tumbuhan untuk memisahkan dan ‘membuang’ organ tumbuhan seperti dedaunan, kelopak bunga, bunga dan buah yang tidak lagi diperlukan tumbuhan atau yang terserang penyakit.
Absisi yang terjadi pada daun dan buah merupakan contoh senesen yang jelas. Daun tidak rontok demikian saja pada waktu mati. Suatu daerah pembelahan sel yang disebut daerah absisi, berkembang dekat pengkal tangkai daun, sehingga sejumlah dinding sel yang melintang tegak lurus terhadap sumbu panjang tangkai daun terbentuk.
Pektinase dan selulase dirangsang pembentukannya pada sel-sel di daerah absisi, dan akan melarutkan lamela tengah dinding yang melintang tadi, sehingga tangkai daun lepas. Hubungan ikatan pembuluh yang terputus akan tersumbat dengan dibentuknya tilosa (tylose), yaitu suatu zat sejenis “gum” dan dilapisi sel-sel gabus. Dalam proses ini dua peristiwa terlibat, yaitu pembelahan sel dan induksi hirdulose. Kedua proses ini merupakan proses metabolisme yang aktif dan oleh karenanya merupakan bagian yang terprogram dalam perkembangan tumbuhan.
Menurut John Walker, kepala the MU Interdisciplinary Plant Group di the Christopher S. Bond Life Sciences Center, tumbuhan menggugurkan organnya karena sejumlah alasan. Dedaunan tua, misalnya, digugurkan guna membantu daur ulang zat-zat makanan, sementara buah-buahan yang telah masak rontok dan jatuh ke bawah guna membantu penyebaran benih. Juga, bagian-bagian bunga yang terkena penyakit sengaja digugurkan dan dibuang oleh tumbuhan. Hal ini sengaja dilakukan untuk mencegah penjalaran penyakit. Namun begitu masih ada sisi lain tentang pengguguran organ tumbuhan ini yang belum terungkap ilmuwan. Mereka masih belum paham mengapa Arabidopsis thaliana menggugurkan bagian-bagian bunganya setelah bunga tersebut dewasa. Bagian-bagian bunga tumbuhan Arabidopsis thaliana tidaklah memerlukan ruang besar, sehingga penggugurannya tidak terlihat memiliki kegunaan yang jelas. Anehnya gen-gen yang bekerja memicu pengguguran ini sudah ada di tumbuhan itu sejak lama, kata Walker.
Demikianlah gugurnya daun, bunga, buah dan bagian tumbuhan lain ternyata bukan kejadian biasa atau kebetulan saja. Itu adalah peristiwa besar yang sengaja Allah ciptakan, yang melibatkan pengaturan rumit gen-gen tumbuhan. Tanpa pengguguran ini, takkan ada daur ulang zat gizi, takkan ada penyebarluasan biji dan takkan ada pencegahan perluasan penyakit. Jika kesemua proses ini terhenti, tumbuhan pada akhirnya akan punah. Akhirnya manusia, yang sangat bergantung pada keberadaan tumbuhan, sudah pasti akan menderita dan sirna juga dari muka bumi.
F.                  KESIMPULAN
1.      Daun yang cepat gugur adalah daun yang diberi perlakuan B dan Ed
2.      Sedangkan daun yang tidak gugur adalah kontrol.

  1. DAFTAR PUSTAKA


Anonim. Penuaan dan Pengguguran. http://sophianirmalida.blogspot.com/2010/10/i.html [18 November 2010].

Selasa, 11 Januari 2011

Pemasakan Buah


Buah-buahan mempunyai arti penting sebagi sumber vitamine, mineral, dan zat-zat lain dalam menunjang kecukupan gizi. Buah-buahan dapat kita makan baik pada keadaan mentah maupun setelah mencapai kematangannya. Sebagian besar buah yang dimakan adalah buah yang telah mencapai tingkat kematangannya. Untuk meningkatkan hasil buah yang masak baik secara kualias maupun kuantitasnya dapat diusahakan dengan substansi tertentu antara lain dengan zat pengatur pertumbuan Ethylene. Dengan mengetahui peranan ethylene dalam pematangan buah kita dapat menentukan penggunaannya dalam industri pematangan buah atau bahkan mencegah produksi dan aktifitas ethyelen dalam usaha penyimpanan buah-buahan.
            Ethylene mula-mula diketahui dalam buah yang matang oleh para pengangkut buah tropika selama pengapalan dari Yamaika ke Eropa pada tahun 1934, pada pisang masak lanjut mengeluarkan gas yang juga dapat memacu pematangan buah yang belum masak. Sejak saat itu Ethylene (C2H2) dipergunakan sebagai sarana pematangan buah dalam industri.
            Ethylene adalah suatu gas yang dapat digolongkan sebagai zat pengatur pertumbuhan (fitohormon) yang aktif dalam pematangan. Dapat disebut sebagai hormon karena telah memenuhi persyaratan sebagai hormon, yaitu dihasilkan oleh tanaman, besifat mobil dalam jaringan tanaman dan merupakan senyawa organik. Seperti hormon lainnya ethylene berpengaruh pula dalam proses pertumbuan dan perkembangan tanaman antara lain mematahkan dormansi umbi kentang, menginduksi pelepasan daun atau leaf abscission, menginduksi pembungaan nenas.  Denny dan Miller (1935) menemukan bahwa ethylene dalam buah, bunga, biji, daun dan akar.
Proses pematangan buah sering dihubungkan dengan rangkaian perubahan yang dapat dilihat meliputi warna, aroma, konsistensi dan flavour (rasa dan bau). Perpaduan sifat-sifat tersebut akan menyokong kemungkinan buah-buahan enak dimakan. Proses pematangan buah didahului dengan klimakterik (pada buah klimakterik). Klimakterik dapat didefinisikan sebagai suatu periode mendadak yang unik bagi buah dimana selama proses terjadi serangkaian perubahan biologis yang diawali dengan proses sintesis ethylene. Meningkatnya respirasi dipengaruhi oleh jumlah ethylene yang dihasilkan, meningkatnya sintesis protein dan RNA.
Perubahan warna dapat terjadi baik oleh proses-proses perombakan maupun proses sintetik, atau keduanya. Pisang warna kuning terjadi karena hilangnya khlorofil tanpa adanya atau sedikit pembentukan zat karotenoid. Sisntesis likopen dan perombakan khlorofil merupakan ciri perubahan warna pada buah tomat.
Menjadi lunaknya buah disebabkan oleh perombakan propektin yang tidak larut menjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati (seperti buah waluh) atau lemak (pada adpokat). Perubahan komponen-komponen buah ini diatur oleh enzym-enzym antara lain enzym hidroltik, poligalakturokinase, metil asetate, selullose.
Flavour adalah suatu yang halus dan rumit yang ditangkap indera yang merupakan kombinasi rasa (manis, asam, sepet), bau (zat-zat atsiri) dan terasanya pada lidah. Pematangan biasanya meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang memberi rasa manis, penurunan asam-asam organik dan senyawa-senyawa fenolik yang mengurangi rasa sepet dan masam, dan kenaikan zat-zat atsiri yang memberi flavour khas pada buah.
Proses pematangan juga diatur oleh hormon antara lain auksin, sithokinine, gibberellin, asam-asam absisat dan ethylene.Auxin berperanan dalam pembentukan ethylene, tetapi auxin juga menghambat pematangan buah. Sithokinine dapat menghilangkan perombakan protein, gibberellin menghambat perombakan khlorofil dan menunda penimbunan karotenoid-karotenoid. Asam absisat menginduksi enzym penyusun/pembentuk karotenoid, dan ethylene dapat mempercepat pematangan.
Aplikasi C2H2 (Ethylene) pada buah-buahan klimakterik, makin besar konsentrasi C2H2 sampai tingkat kritis makin cepat stimulasi respirasinya. Ethylene tersebut bekerja paling efektif pada waktu tahap klimakerik, sedangkan penggunaan C2H2  pada tahap post klimakerik tidak merubah laju respirasi. Pada buah-buahan non klimakterik respon terhadap penambahan ethylene baik pada buah pra panen maupun pasca panen, karena produksi ethylene pada buah non klimakterik hanya sedikit.
Dari penelitian Burg dan Burg (1962), juga dapat diketahui bahwa ethylene merangsang pemasakan klimakerik. Sedangkan menurut  Winarno (1979) dikatakan bahwa uah-buahan non klimakterik akan mengalami klimakterik setelah ditambahkan ethylene dalam jumlah yang besar. Di samping itu pada buah-buahan non klimakterik apabila ditambahkan ethylene beberapa kali akan terjadi klimakterik yang berulang-ulang.
Penelitian Mattoo dan Modi (1969) telah menunjukkan bahwa C2H2 meningkatkan kegiatan enzym-enzym katalase, peroksidase, dan amylase dalam irisan-irisan mangga sebelum puncak kemasakannya. Serta selama pemacuan juga diketemukan zat-zat serupa protein yang menghambat pemasakan, dalam irisan-irisan itu dapat hilang dalam waktu 45 jam. Perlakuan dengan C2H2 mengakibatkan irisan-irisan menjadi lunak dan tejadi perubahan warna yang menarik dari putih ke kuning, yang memberi petunjuk timbulnya gejala-gejala kematangan yang khas. Menunjukkan hubungan antara C2H2 dengan penhambat peroksidase pada irisan-irisan mangga Alphonso.
Pembentukan ethylene dalam jaringan-jaringan tanaman dapat dirangsang oleh adanya kerusakan-kerusakan mekanis dan infeksi. Oleh karena itu adanya kerusakan mekanis pada buah-buahan yang baik di pohon maupun setelah dipanen akan dapat mempercepat pematangannya.
Penggunaan sinar-sinar radioaktif dapat merangsang produksi ethylene. Pada buah Peach yang disinari dengan sanar gama 600 krad ternyata dapat mempercepat pembentukan ethylene apabila dibeika pada saat pra klimakterik, tetapi penggunaan sinar radioaktif tersebut pada saat klimakterik dapat menghambat produksi ethylene.
Produksi ethylene juga dipengaruhi oleh faktor suhu dan oksigen. Suhu renah maupun suhu tinggi dapat menekan produk si ethylene. Pada kadar oksigen di bawah sekitar 2% tidak terbentuk ethylene, karena oksigen sangat diperlukan. Oleh karena itu suhu rendah dan oksigen renah dipergunakan dalam praktek penyimpanan buah-buahan, karena akan dapat memperpanjang daya simpan dari buah-buahan tersebut.
Aktifitas ethylene dalam pematangan buah akan menurun dengan turunnya suhu, misalnya pada Apel yang disimpan pada suhu 30 C, penggunaan ethylene dengan konsentrasi tinggi tidak memberikan pengaruh yang jelas baik pada proses pematangan maupun pernafasan. Pada suhu optimal untuk produksi dan aktifitas ethylene pada bah tomat dan apel adalah 320 C, untuk buah-buahan yang lain suhunya lebih rendah.

PENGARUH HORMON TERHADAP PERKECAMBAHAN

PENGARUH HORMON TERHADAP PERKECAMBAHAN
Tujuan
Untuk mengetahui peran hormon terhadap perkecambahan pada tanaman
Alat dan Bahan
1. Cawan petri
2. Kertas saring
3. Gelas beker
4. Biji jagung
5. Biji kacang merah
6. IAA
7. GA
CARA KERJA
1. Larutan IAA dan GA dibuat dengan konsentrasi 0 ppm, 10 ppm, 20 ppm. Masing-masing konsentrasi diletakkan pada gelas beker dengan volume yang sama.
2. biji dipilih dengan vigur yang baik, masing-masing tanaman 150 biji.
3. Biji direndam dalam gelas beker yang masing-masing berisi larutan hormon pada berbagai konsentrasi (masing-masing berisi 60 biji@tanaman 30 biji).
4. biji direndam selama 1 jam
5. biji diletakkan di cawan untuk dikecambahkan. masing-masing cawan berisi 10 biji dengan 3 ulangan.
6. laju perkecambahan diamati tiap hari sampai ada yang mencapai 100%.
7. Dilakukan Uji T untuk melihat perbedaan antara IAA dan GA.

ACARA II
PENGARUH AUKSIN TERHADAP PEMBENTUKAN AKAR PADA STEK BATANG
Tujuan
Untuk mengetahui peran auksin terhadap pembentukan akar pada stek batang
Alat dan bahan
1. Stek kangkung
2. Larutan NAA
3. Larutan TIBA
3. Aquades
5. Botol gelap
6. Kapas
7. label
CARA KERJA
1. Larutan NAA dan TIBA dibuat dengan konsentrasi 0 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dengan volume yang sama tiap konsetrasi
2. stek kangkung dipotong 15 cm dari ujung, dibuat 3 ulangan untuk masing-masing perlakuan (18 stek). kontrol 0 ppm ada dua perlakuan dengan dan tanpa tunas ujung.
3. stek direndam pada media hormon dalam gelas beker pada berbagai konsentrasi selama 24 jam
4.tiap stek ditanam pada botol gelap yang berisi aquades
5. stek ditahan pada botol dengan cara melilitkan kapas pada stek dan diletakkan pada lubang botol.
6. Diamati panjang dan jumlah akar yang terbentuk selama 7 hari.
7. NAA dan TIBA dibandingkan dengan uji T

ACARA III
PENGARUH SITOKININ PADA PENUNDAAN PENUAAN DAUN
Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh sitokininpada penundaan penuaan daun
Alat dan bahan
1. Kinetin
2. Aquades
3. Daun jati
4. kapas
5. Gelas beker 500 ml
6. Label
Cara Kerja
1. Larutan kinetin dibuat pada konsentrasi 0 ppm, 25 ppm, 50 ppm
2. Larutan disimpan di kulkas
3. Daun jati diambil dengan umur yang sama sebanyak 9 helai (n=3)
4. pangkal daun jati direndam dengan air dalam gelas beker (3 cm pangkal terendam)
5. Kinetin dioleskan tiap hari selama 7 hari pada semua bagian di sisi kanan ibu tulang daun.
6. Diamati dan dibandingkan perubahan warna daun antara sisi kiri dengan sisi kanan ibu tulang daun.
ACARA IV
PENGARUH HORMON TERHADAP KESEGARAN BUNGA
Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh hormon dalam mempertahankan kesegaran bunga
Alat dan Bahan
1. GA
2. Kinetin
3. Bunga potong krisan
4. Botol gelap
5. Aquades
6. Label
Cara Kerja
1. Larutan GA dan Kinetin dibuat dengan konsentrasi 25 ppm dan 50 ppm sebanyak 100 ml. dibuat 2 ulangan dengan 10 perlakuan
2. masing-masing larutan hormon dimasukkan ke dalam botol gelap (10 botol) dan diberi label
3. ibu tangkai bunga krisan dipotong sehingga berukuran sama (kira2 25 cm)
4. diamati selama 10 hari
5. diuji dengan uji T

PENGARUH HORMON DALAM ABSISI

PENGARUH HORMON DALAM ABSISI

A.                 TUJUAN
Untuk mengetahui pengaruh hormon dalam absisi

B.                 ALAT DAN BAHAN
1.      Lanolin
2.      IAA
3.      Tanaman Coleus sp. Atau Teh-tehan (mempunyai tangkai daun berhadapan)
4.      Tusuk gigi

C.                 CARA KERJA
1.      Larutan IAA dibuat 100 ppm dalam lanolin
2.      Diletakkan di cawan dan diberi label
3.      Disiapkan tanaman dalam berbagai perlakuan :
a)      Daun dipotong di sisi kanan batang tepat pada pangkal daun
b)      Daun sisi kiri dan kanan batang dipotong
c)      Dipotong seperti (a) dan bekas potongan diberi lanolin +IAA
d)      Dipotong seperti (b) dan bekas potongan diberi lanolin+IAA
e)      Dibuat seperti a, b, c, dan d tetapi ujung batang dipotong tunasnnya
f)        Dibuat control tanaman utuh tanpa perlakuan

D.                 HASIL
Pasta lanolin+IAA dioleskan setiap lima hari sekali. Pengamatan dihentikan setelah semua tangkai yang dipotong gugur. Setiap hari diamati tangkai yang gugur.



Tanggal 1 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A

Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur sebelah
Gugur semua
C
Gugur yang dipotong daunnya+IAA


D


Gugur sebelah
Ea
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Eb

Gugur semua
Gugur sebelah
Ec

Gugur sebelah

Ed

Gugur sebelah
Gugur semua
Kontrol


Gugur semua

Tanggal 2 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
C
Gugur yang dipotong daunnya+IAA
Tidak gugur
Tidak gugur
D
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur sebelah
Ea
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Eb
Gugur sebelah
Gugur semua
Gugur sebelah
Ec
Tidak gugur
Gugur sebelah
Tidak gugur
Ed
Tidak gugur
Gugur sebelah
Gugur semua
Kontrol
Tidak gugur
Tidak gugur
Tidak gugur

Tanggal 4 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
C
Gugur
Tidak gugur
Melengkung
D
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur satu
Ea
Gugur
Gugur sebelah
Gugur sebelah
Eb
Gugur satu
Gugur semua
Gugur satu
Ec
Tidak gugur
Gugur satu
Tidak gugur
Ed
Tidak gugur
Gugur sebelah
Gugur semua
Kontrol
Tidak gugur
Tidak gugur
Tidak gugur

Tanggal 10 November 2010
Perlakuan
Tanaman
n1
n2
n3
A
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
Gugur yang dipotong daunnya
B
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
C
Gugur yang dipotong
Tidak gugur
Gugur semua
D
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur semua
Ea
Gugur yang dipotong
Gugur yang dipotong
Gugur yang dipotong
Eb
Gugur satu
Gugur semua
Gugur semua
Ec
Tidak gugur
Gugur yang dipotong
Gugur satu
Ed
Gugur semua
Gugur semua
Gugur semua
Kontrol
Tidak gugur
Tidak gugur
Gugur satu

  1. PEMBAHASAN
Auksin berasal dari bahasa Yunani “Auxano” yang berarti tumbuh atau bertambah. Auksin merupakan golongan dari substansi permacu pertumbuhan tanaman dan morfogen (fitohormon) yang paling awal ditemukan. Salah satu anggota dari auksin yang paling dikenal adalah IAA. Suatu system sel tumbuhan memerlukan auksin untuk pertumbuhan, pembagian tugas (divisi) maupun ekspansi selular. Fungsi auksin tergantung pada jaringan yang spesifik; seperti pada batang, akar, dan buah. Auksin dapat memacu pemanjangan apical batang, ekspansi lateral rambut akar, atau ekspansi isodiametrik dalam pertumbuhan buah. Beberapa kasus (pertumbuhan koleoptil), auksin memacu ekspansi selular tanpa adanya pembagian divisi dalam sel tersebut. Kasus lainnya, auksin dapat mendorong pembagian divisi dan ekspansi sel dalam jaringan yang sama seperti inisiasi akar.
Auksin sangat berperan penting dalam dominasi tunas apikal, merupakan sebuah fenomena dari pusat percabangan tumbuhan yang tumbuh lebih dominan daripada percabangan lainnya. Tunas apikal adalah bagian yang memproduksi hormon auksin yang dapat berdifusi ke bawah dan menunjang pertumbuhan tunas lateral, dilain pihak pertumbuhan ini akan menimbulkan kompetisi pada tunas apikal terhadap cahaya matahari dan nutrisi. Apabila prinsip dari dominasi apikal dapat dipahami, maka akan sangat membantu dalam manajemen tumbuhan. Manajemen tumbuhan dapat berupa memanipulasi respon natural, seperti pengaruh hormone auksin ini untuk menghasilkan tumbuhan yang dapat diatur ukuran, bentuk, maupun produktivitas buahnya (http://en.wikipedia.org).
Sekilas, peristiwa gugurnya dedaunan tumbuhan tampak seperti kejadian alam biasa. Namun ternyata tidak demikian bagi para ilmuwan, yang meneliti sungguh-sungguh fenomena yang diistilahkan dengan “abscission” ini. Abscission adalah suatu proses yang dilakukan tumbuhan untuk memisahkan dan ‘membuang’ organ tumbuhan seperti dedaunan, kelopak bunga, bunga dan buah yang tidak lagi diperlukan tumbuhan atau yang terserang penyakit.
Absisi yang terjadi pada daun dan buah merupakan contoh senesen yang jelas. Daun tidak rontok demikian saja pada waktu mati. Suatu daerah pembelahan sel yang disebut daerah absisi, berkembang dekat pengkal tangkai daun, sehingga sejumlah dinding sel yang melintang tegak lurus terhadap sumbu panjang tangkai daun terbentuk.
Pektinase dan selulase dirangsang pembentukannya pada sel-sel di daerah absisi, dan akan melarutkan lamela tengah dinding yang melintang tadi, sehingga tangkai daun lepas. Hubungan ikatan pembuluh yang terputus akan tersumbat dengan dibentuknya tilosa (tylose), yaitu suatu zat sejenis “gum” dan dilapisi sel-sel gabus. Dalam proses ini dua peristiwa terlibat, yaitu pembelahan sel dan induksi hirdulose. Kedua proses ini merupakan proses metabolisme yang aktif dan oleh karenanya merupakan bagian yang terprogram dalam perkembangan tumbuhan.
Menurut John Walker, kepala the MU Interdisciplinary Plant Group di the Christopher S. Bond Life Sciences Center, tumbuhan menggugurkan organnya karena sejumlah alasan. Dedaunan tua, misalnya, digugurkan guna membantu daur ulang zat-zat makanan, sementara buah-buahan yang telah masak rontok dan jatuh ke bawah guna membantu penyebaran benih. Juga, bagian-bagian bunga yang terkena penyakit sengaja digugurkan dan dibuang oleh tumbuhan. Hal ini sengaja dilakukan untuk mencegah penjalaran penyakit. Namun begitu masih ada sisi lain tentang pengguguran organ tumbuhan ini yang belum terungkap ilmuwan. Mereka masih belum paham mengapa Arabidopsis thaliana menggugurkan bagian-bagian bunganya setelah bunga tersebut dewasa. Bagian-bagian bunga tumbuhan Arabidopsis thaliana tidaklah memerlukan ruang besar, sehingga penggugurannya tidak terlihat memiliki kegunaan yang jelas. Anehnya gen-gen yang bekerja memicu pengguguran ini sudah ada di tumbuhan itu sejak lama, kata Walker.
Demikianlah gugurnya daun, bunga, buah dan bagian tumbuhan lain ternyata bukan kejadian biasa atau kebetulan saja. Itu adalah peristiwa besar yang sengaja Allah ciptakan, yang melibatkan pengaturan rumit gen-gen tumbuhan. Tanpa pengguguran ini, takkan ada daur ulang zat gizi, takkan ada penyebarluasan biji dan takkan ada pencegahan perluasan penyakit. Jika kesemua proses ini terhenti, tumbuhan pada akhirnya akan punah. Akhirnya manusia, yang sangat bergantung pada keberadaan tumbuhan, sudah pasti akan menderita dan sirna juga dari muka bumi.
F.                  KESIMPULAN
1.      Daun yang cepat gugur adalah daun yang diberi perlakuan B dan Ed
2.      Sedangkan daun yang tidak gugur adalah kontrol.

  1. DAFTAR PUSTAKA


Anonim. Penuaan dan Pengguguran. http://sophianirmalida.blogspot.com/2010/10/i.html [18 November 2010].