Rabu, 17 November 2010

PENGARUH HORMON DALAM PEMASAKAN BUAH

A.                TUJUAN
Untuk mengetahui pengaruh etilen pada pemasakan buah

B.                 ALAT DAN BAHAN
1.      Buah pisang
2.      Kulkas
3.      Kantong plastik

C.                 CARA KERJA
1.      Pisang dicari yang umur fisiologisnya sama (sisir pertama setiap tandan).
2.      Pisang 1 sisir diletakkan di meja, 1 sisir dimasukkan kantong plastic dan diletakkan di meja
3.      Pisang 1 sisir dimasukkan kulkas, 1 sisir dimasukkan kantong plastic dan dimasukkan ke kulkas.
4.      Diamati mana yang cepat matang

Kamis, 11 November 2010

Laporan PKL/BAB I


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki kekayaan keanekaragaman alam hayati yang berjajar dari pulau Sumatra sampai Papua. Di antara tumbuhan dan hewan yang sangat beragam,salah satunya adalah kelelawar. Kelelawar di Indonesia sendiri ada lebih dari 200 jenis kelelawar atau sekitar 20% dari semua jenis di dunia yang telah dikenal. Peranan kelelawar sangat banyak yaitu sabagai mamalia terbang terbesar di dunia, sangat penting dalam pemencaran biji pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan komersil dan sebagai pengendali hama serangga (Nofit, 2010).
Kelelawar telah membangkitkan minat orang sepanjang sejarah. Kualitas unik kelelawar telah membuatnya istimewa di antara semua makhluk hidup. Kelelawar terbang seperti burung, menggigit seperti tikus, bersembunyi di siang hari, dan melihat dalam gelap. Kelelawar adalah salah satu mamalia yang luar biasa, tidak hanya sebagai mamalia bersayap yang bisa terbang, tetapi juga mempunyai kemampuan ekolokasi. Di malam hari, mereka menggunakan sonar biologis untuk bernavigasi dan menghindari benda-benda. Sonar inilah yang membantu mereka untuk "melihat" pada malam hari yang gelap.
Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang dapat terbang. Sayap mamalia merupakan hasil modifikasi dari selaput yang berada di tulang lengan. Pada sayap-sayap kelelawar dapat terlihat jelas pembuluh darah yang ada untuk mendistribusikan energi keseluruh bagian tubuhnya. Kelelawar juga memiliki puting susu yang merupakan ciri dari hewan mamalia. Waktu reproduksi hewan ini berlangsung lama karena pada proses perkawinan berlangsung lama, ovulasi, fertilisasi, implantasi dan perkembangan janin juga tertunda. Sehingga satu hewan jantan dapat mengawini lebih dari 2 ekor betina untuk tetap mempertahankan jumlah populasi dari kelelawar ini sendiri (Nofit, 2010).
Kelelawar dalam fungsi ekologi sangat penting karena hewan itu menjaga keanekaragaman tumbuhan hutan tropis. Selain sebagai penyerbuk bunga, kelelawar juga sebagai pemencar biji. Sembilan puluh lima persen tumbuh-tumbuhan yang dipencarkan bijinya oleh hewan berasal dari kelelawar. Sisanya oleh hewan lain, seperti monyet, babi, badak , dan burung. Hewan ini hanya memakan daging buah yang dikunyah-kunyah untuk diambil cairannya, bagian serabut daging buah disepah dan bijinya yang telah bersih dari daging buah dibuang. Kelelawar juga berperan sebagai penyerbuk bagi pohon-pohon di hutan, termasuk pohon-pohon dengan nilai komersial tinggi, seperti durian, randu, dan jenis lainnya di hutan mangrove. Di Indonesia jenis kelelawar yang sudah diketahui sebanyak 215 jenis, sedangkan di dunia ditaksir berjumlah 977 jenis (Puniman, 2003).
Kelelawar umumnya aktif pada malam hari, dan hanya beberapa jenis saja yang aktif pada siang hari. Beberapa jenis kelelawar hidup di sekitar permukiman manusia, tetapi sebagian besar hidup di dalam hutan. Hewan ini banyak sekali manfaatnya bagi manusia. Akan tetapi kini populasinya semakin merosot akibat perubahan habitat hutan dan penangkapan oleh manusia (Puniman, 2003).
Informasi yang diketahui sangat sedikit mengenai evolusi kelelawar, karena fosil yang ditemukan 55 juta tahun yang lalu ternyata sudah seperti kelelawar yang ada pada saat ini. Kelelawar pertama yang diketahui diberi nama Icaronycteris, hidup di Amerika Utara dan memiliki lebar sayap sepanjang 37 cm (Adi, 2007).
Untuk mengetahui berapa banyak jenis kelelawar yang ada di Indonesia, maka dilakukanlah pengoleksian dari jenis-jenis kelelawar yang ada di Indonesia. Pengelolaan koleksi adalah serangkaian kegiatan yang menyangkut berbagai aspek kegiatan, dimulai dari pengadaan koleksi, registrasi dan inventarisasi, perawatan, penelitian sampai koleksi tersebut disajikan di ruang pamer atau di simpan pada ruang penyimpanan (Direktorat Museum, 2007).

B.     Profil Institusi Mitra
1.      Sejarah Pusat Penelitian Biologi
Sejarah Pusat Penelitian Biologi (P2B) dapat ditarik kembali semenjak era kolonial sekitar tahun 1800-an. Pada 1834  Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jawa, mendirikan kebun raya di Bogor, yang kemudian dikembangkan menjadi stasiun penelitian bernama Land Plantentuin. Stasiun ini mengakomodasi seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan bidang taksonomi tumbuhan maupun hewan, di mana ribuan kehidupan liar Indonesia kemudian diberi nama ilmiah. Seiring dengan perkembangannya, penelitian juga memberi perhatian terhadap perkembangan ilmu serangga (entomologi) sejalan dengan kenyataan bahwa pada waktu itu serangga merupakan hama utama bagi pertanian. Hal tersebut memberi jalan bagi berdirinya  Museum Zoologicum Bogoriense, atau  Museum Zoologi Bogor 1894. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan, mampu mendominasi forum ilmiah internasional, sehingga institusi ini menjadi semakin kuat, juga karena lembaga ini sangat berarti bagi dunia ilmiah internasional. Sejak awal abad ke-20, lembaga ini tidak terpengaruh oleh perang yang berkecamuk hingga negara Indonesia memperoleh kemerdekaannya, lembaga tersebut selalu terbebas dari pengaruh kondisi politik maupun kekacauan sosial. Pada masa setelah kemerdekaan, Pemerintah Indonesia mengubah nama  Land Plantentuin menjadi Lembaga Hortus Botanicus Pusat (LHBP), atau Kebun Raya Indonesia (KRI),  yang dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor (KRB). Lembaga ini berada dibawah administrasi Djawatan Penelitian Alam (DPA), yang kemudian diganti namanya menjadi  Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LPPA) dibawah Departemen Pertanian.
Pada tahun 1962 berdasar dekrit MPR  No. II, 1960, Kebun Raya Bogor dan LPPA itu sendiri dipisahkan dari Departemen Pertanian, dan diganti namanya menjadi  Lembaga Biologi Nasional (LBN) dibawah administrai Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI), yang kemudian berganti nama menjadi  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam perkembangan selanjutnya berdasar Dekrit Presiden  No.I, 1986 tentang reorganisai LIPI, nama Lembaga Biologi Nasional diganti menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, yang diikuti dengan didirikannya dua lembaga baru yaitu Puslitbang Bioteknologi dan Puslitbang Limnologi. Berdasarkan Keputusan Kepala LIPI - No.23/kep/D.5/1987 Pusat Penelitian Biologi ditugaskan untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu biologi, memperbaiki kemampuan komunitas ilmiah, dan mengembangkan jasa-jasa dan distribusi informasi biologi dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keragaman biologi Indonesia.
2.      Sejarah dan Peranan Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) memulai kegiatannya sejak berdiri di Bogor pada tahun 1894 merupakan bagian dari Lands Plantentuin. Pada awal didirikannya, MZB berfungsi sebagai Laboratorium Zoologi yang memberi wadah penelitian yang berkaitan dengan binatang hama dan penyakit pada tanaman dengan nilai ekonomi tinggi untuk meningkatkan pendapatan pemerintah Belanda saat itu.
Dr. J. C. Koningsberger, seorang ahli zoologi pertanian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah MZB. Koningsberger memulai pekerjaannya pada bulan Agustus 1894 di Bogor yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi MZB. Dipacu oleh perkembangan pengetahuan dan tuntutan di bidang zoologi, maka fungsi laboratorium zoologi diperluas, meliputi kegiatan koleksi dan inventarisasi fauna yang pada saat itu lebih banyak terfokus pada serangga. Saat itu sebagian peranan sebagai sebuah museum yang meliputi kegiatan mengumpulkan, merawat, meneliti, dan memamerkan koleksi mulai terpenuhi. Bersama-sama dengan Dr. M. Treub, Koningsberger melanjutkan usaha untuk menambah koleksi fauna sebagaimana layaknya koleksi sebuah museum sejarah alam di Bidang Zoologi. Obsesi Koningsberger dapat terwujud dengan selesainya pembangunan gedung museum seluas 402 m2 pada bulan Agustus 1901 yang digunakan sebagai pameran koleksi fauna yang telah dikumpulkannya. Museum tersebut kemudian diberi nama Landbouw Zoologisch Museum. Sepanjang perkembangannya, balai ini telah beberapa kali mengalami pergantian nama. Perluasan lingkup kerja museum terjadi pada tahun 1986 melalui Surat Keputusan Presiden No. 1 Tahun 1986, yang ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Ketua LIPI No. 23/Kep/D.5/87 Tahun 1987, maka MZB dikukuhkan menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Zoologi (Balitbang Zoologi) yang bernaung di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI (Puslitbang Biologi-LIPI) (Kardasan dkk, 1994).
Sejak berdirinya sampai dengan tahun 1997, Bidang Zoologi menempati gedung bersejarah di dalam Kebun Raya Bogor, yang secara ilmiah merupakan kebun raya terkenal di dunia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan agar kegiatan penelitian dapat ditampung, maka Bidang Zoologi pindah dan menempati gedung baru di Pusat Ilmu Pengetahuan Cibinong (Cibinong Science Centre). Gedung yang diberi nama Widyasatwaloka ini dibangun dengan bantuan dana dari Pemerintah Jepang pada tahun 1997. Sedangkan fasilitas penyimpanan koleksi diadakan dengan bantuan dana GEF/Word Bank dalam rangka peningkatan kualitas dan pengelolaan koleksi ilmiah spesimen bertaraf internasional. Demikian juga laboratorium genetika, biologi reproduksi dan nutrisi yang saat ini sudah berstandar dunia. Fasilitas baru ini meningkatkan perkembangan lebih lanjut dari Bidang Zoologi. Jumlah spesimen yang dikoleksi untuk menunjang kegiatan penelitian biosistematika, ekologi dan fisiologi meningkat pesat. Bidang Zoologi bertekad untuk menjadi lembaga pelopor yang mampu memberikan informasi ilmiah tentang fauna Indonesia.

3.      VISI dan MISI Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi - LIPI
Menjadi acuan dan pusat informasi terpercaya mamalia Indonesia

4.      Tugas Pokok dan Fungsi
Adapun tugas pokok dan fungsi Museum Zoologi Bogor adalah :
1.                  Koleksi
Indonesia memiliki sekitar 701 jenis hewan mamalia sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terkaya dalam keanekaragaman jenis mamalia.  Sampai saat ini (Juli 2009) koleksi ilmiah hewan mamalia terdiri dari sekitar 470 jenis (± 32000 spesimen).  Kekayaan koleksi ilmiah mamalia ini merupakan kebanggaan bangsa Indonesia.  Koleksi ini sangat bermanfaat untuk kepentingan ilmiah antara lain: materi penelitian, bahan referensi, sumber data keragaman jenis, dan bahan pendidikan.
2.                  Program
a.          Melakukan kajian biosistematika karakter hewan mamalia, inventarisasi dan evaluasi keberadaannya, dan potensinya.
b.         Peningkatan kapabilitas staf peneliti mamalia melalui penguatan kompetensi, kerjasama, pendidikan dan pelatihan
3.                  Penelitian
Laboratorium Mamalia melakukan penelitian yang mencakup biosistematika, keanekaragaman, sebaran dan potensi hewan mamalia yang bertujuan pada konservasi dan pendayagunaan secara berkesinambungan.  Puluhan jenis/anak jenis baru dan rekaman baru (new record) hewan mamalia telah dideskripsi oleh staf peneliti Laboratorium Mamalia.
4.                  Pelayanan dan Jasa
a.          Identifikasi mamalia
b.         Konsultasi
c.          Pengawetan dan pembuatan spesimen ilmiah mamalia
d.         Pembibingan dan pengajaran
e.          Ceramah
5. Struktur Organisasi
Nama
Posisi
Keahlian/Bidang Penelitian
Peneliti/Kepala Lab
Biosistematika dan ekologi mamalia kecil
Peneliti
Biosistematika dan ekologi mamalia kecil
Dr. Gono Semiadi
Peneliti
Ekologi dan konservasi wildlife/ Mamalia besar
Dr. Ibnu Maryanto
Peneliti
Biosistematika dan ekologi mamalia kecil
Dr. Sugardjito
Peneliti
Ekologi dan konservasi endangered wildlife
Kandidat Peneliti
Ekologi primata dan karnivora
drh. Anang S. Achmadi
Kandidat Peneliti
Biosistematika Rodentia
Sigit Wiantoro, M.Si
Kandidat Peneliti
Biosistematika Chiroptera
M.H. Sinaga, S.Si
Teknisi

Nanang Supriatna
Teknisi

Kurnianingsih
Teknisi


C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka dapatkan dirumuskan masalah yaitu bagaimana proses pengelolaan koleksi spesimen basah dan kering kelelawar di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB)?

D. Tujuan
1. Tujuan Umum
a.       Mahasiswa dapat mengetahui dan terlibat secara langsung dalam dunia kerja yang profesional.
b.      Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu sesuai dengan bidang yang diperoleh di bangku kuliah.
c.       Menambah wawasan dan pengetahuan baru di bidang zoologi khususnya di laboratorium mamalia.
d.      Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam kaitannya dengan penelitian yang berhubungan dengan Tugas Akhir.

2. Tujuan Khusus
Mengetahui cara penanganan dan pengelolaan koleksi basah dan kering dari spesimen kelelawar di laboratorium.

E. Manfaat
1.                      Bagi Mahasiswa
a.       Mahasiswa mengetahui dan melatih keterampilan dalam pengelolaan koleksi basah dan kering dari spesimen kelelawar.
b.      Mahasiswa memperoleh panduan dasar dalam pengerjaan spesimen kelelawar yang nantinya akan dilakukan saat pelaksanaan penelitian untuk Tugas Akhir.
2.                      Bagi Instansi Tempat PKL
a.       Sebagai pelaksanaan fungsi lembaga di bidang pendidikan dan pemasyarakatan biologi, khususnya dibidang zoologi.
b.      Memperoleh bantuan dalam pengerjaan dan pengelolaan koleksi basah dan kering spesimen kelelawar di laboratorium mamalia.
3.                      Bagi Pendidikan
Laporan PKL ini bermanfaat untuk menambah referensi bagi pihak yang membutuhkan terkait dengan pengelolaan koleksi basah dan kering dari spesimen kelelawar di laboratorium.

cover

LAPORAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGELOLAAN KOLEKSI SPESIMEN KELELAWAR DI LABORATORIUM MAMALIA, BIDANG ZOOLOGI, PUSAT PENELITIAN BIOLOGI – LIPI











Disusun oleh :
EUIS INAYATI
M0407032





JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010

Jumat, 05 November 2010

Takson dibawah Spesies

Takson di Bawah Spesies (Infraspesific Taxa)
v    Individu
v    Forma
v    Varietas
v    Anak Jenis  
Individu
Individu merupakan satuan organik yang paling sederhana dalam sistem alam raya makhluk hidup. Individu-individu yang menyusun jenis atau bagian-bagiannya secara keseluruhan disebut populasi.
Populasi pada umumnya didefinisikan sebagai sekelompok individu yang semacam, mempunyai persamaan-persamaan umum dan menghuni tempat yang sama pada saat bersamaan
Individu-individu dalam suatu populasi akan berkembang biak, saling kawin-mengawini dan bertukar gen, mati, pindah tempat, terpecah belah atau bergabung dengan populasi lainnya namun ciri dasar populasi itu secara keseluruhan bersifat tetap  
Forma
n    Dalam suatu populasi jenis, kadangkala dijumpai adanya variasi bentuk yang jelas berbeda dengan anggota populasi lainnya tapi tidak menunjukkan pola persebaran tertentu. Kesatuan ini disebut forma, yang seringkali terjadi dalam populasi yang muncul secara sporadis dan terbatas tapi dengan ciri-ciri yang mantap.
n    Forma merupakan peringkat taksonomi terendah yang diberi pengakuan taksonomi dan nama ilmiah (di luar individu) karena mudah dikenal (misalnya karena perbedaan warna bunga, bentuk atau ukuran daun, dll)
Varietas
n    Varietas dalam lingkup pertanian dipakai untuk mengacu segala macam bentuk variasi jenis tanaman, untuk ini istilah yang lebih tepat harusnya kultivar (cultivated variety)
n    Kultivar tercipta karena adanya usaha manusia untuk terus mendapatkan bibit tanaman yang unggul dengan jalan pemuliaan tanaman melalui seleksi, persilangan, dll. Kultivar tidak diberi nama ilmiah dalam bahasa Latin tetapi hanya diberi nama atau petunjuk fantasi.
n    Untuk keperluan klasifikasi, ahli-ahli taksonomi pada umumnya menganggap bahwa varietas adalah sebagian dari suatu populasi yang terdiri atas satu atau beberapa anggota yang mempunyai ciri morfologi yang nyata dan tersebar dalam daerah terbatas/lokal. Varietas bisa dikatakan sebagai ras lokal dari populasi jenisnya.
n    Variasi yang menjadi ciri varietas dapat berhubungan dengan faktor geografri, ekologi, sitologi atau gabungan ketiganya
Anak Jenis/Subspecies
n    Anak jenis merupakan populasi yang terdiri atas beberapa anggota yang mempunyai daerah penyebaran yang meluas sampai meliptui wilayah atau kawasan.
n    Anak jenis dapat dianggap sebagai ras-ras geografi dari populasi jenisnya, terpisah satu sama lain oleh adanya perbedaan ciri-ciri morfologi tapi di antaranya tidak terdapat penghalang genetika sekalipun daerah penyebarannya mungkin terpisah jauh satu sama lain.
n    Luas tingkat penyebaran (sporadik untuk forma, lokal untuk varietas dan kawasan/regional untuk anak jenis) tidak selamanya berimbangan dengan perbedaan-perbedaan ciri morfologi takson-takson bersangkutan
n    Perbedaan antara sesama anak jenis adakalanya tidak setajam atau sebanyak perbedaan-perbedaan antara varietas, atau bahkan antara forma-forma dalam satu jenis.
v    Dari segi total hilangnya biodiversitas, mengapa efek tidak langsung jauh lebih penting dibanding pengaruh langsung?
Salah satu proses yang terus berlanjut pada tahun1990-an yang memerlukan waktu pemulihan selama jutaan tahun adalah hilangnya keanekaragaman genetic dan spesies karena rusaknya habitat alam (E.O Wilson, 1990). Penyebab hilangnya diversitas biologi terutama oleh manusia ada yang secara langsung maupun tidak langsung.
Penyebab secara langsung seperti perburuan, koleksi, persekusi, dll. Sedangkan efek dari hilangnya biodiversitas secara tidak langsung adalah perusakan habitat, modifikasi habitat, dll.
Hilangnya biodiversitas secara tak langsung ini efeknya lebih mengerikan daripada hilangnya biodiversitas secara langsung. Karena yang hilang dari biodiversitas secara tak langsung itu adalah habitat, ekosistem maupun tempat hidup dari suat makhluk hidup. Kehilangan ini semua dapat mengakibatkan punahnya suatu organisme bahkan populasi. Karena yang istilahnya “di acak-acak” oleh manusia adalah tempat hidup dari organisme tersebut. Kalau efek langsung itu kan seperti perburuan, koleksi, dll. Yang diambil hanya satu atau beberapa spesies, jadi tidak terlalu berefek. Berefek juga, tapi efeknya itu juga tidak terlalu signifikan. Karena tidak sampai terjadi kepunahan. Kalaupun terjadi kepunahan, itu karena diburu setiap waktu. Bila tempat hidupnya yang diubah, maka organisme itu akan beradaptasi. Bila organisme itu tidak bisa beradaptasi, maka akan terjadi kepunahan.


Kamis, 04 November 2010

Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang Sebagai Bahan Pengawet kayu Ramah Lingkungan


Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua “genangan” air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan (Indriyatmoko, 2009).
Potensi produksi udang di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selama ini potensi udang Indonesia rata-rata meningkat sebesar 7,4 persen per tahun. Data tahun 2001, potensi udang nasional mencapai 633.681 ton. Dengan asumsi laju peningkatan tersebut tetap, maka pada tahun 2004 potensi udang diperkirakan sebesar 785.025 ton. Dari proses pembekuan udang untuk ekspor, 60-70 persen dari berat udang menjadi limbah (bagian kulit dan kepala) sehingga diperkirakan akan dihasilkan limbah udang sebesar 510.266 ton.
Limbah sebanyak itu, jika tidak ditangani secara tepat, akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, karena selama ini pemanfaatan limbah cangkang udang hanya terbatas untuk pakan ternak saja seperti itik, bahkan sering dibiarkan membusuk.
Cangkang udang mengandung zat khitin sekitar 99,1 persen. Jika diproses lebih lanjut dengan melalui beberapa tahap, akan dihasilkan khitosan, yaitu:
1. Dimineralisasi
Limbah cangkang udang dicuci dengan air mengalir, dikeringkan di bawah sinar Matahari sampai kering, lalu digiling sampai menjadi serbuk ukuran 40-60 mesh. Kemudian dicampur asam klorida 1,25 N dengan perbandingan 10:1 untuk pelarut dibanding kulit udang, lalu dipanaskan pada suhu 90°C selama satu jam. Residu berupa padatan dicuci dengan air sampai pH netral dan selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 80°C selama 24 jam.
2. Deproteinisasi
Limbah udang yang telah dimineralisasi kemudian dicampur dengan larutan sodium hidroksida 3,5 persen dengan perbandingan antara pelarut dan cangkang udang 6:1. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 90°C selama satu jam. Larutan lalu disaring dan didinginkan sehingga diperoleh residu padatan yang kemudian dicuci dengan air sampai pH netral dan dikeringkan pada suhu 80°C selama 24 jam.


3. Deasetilisasi khitin menjadi khitosan
Khitosan dibuat dengan menambahkan sodium hidroksida (60 persen) dengan perbandingan 20:1 (pelarut dibanding khitin), lalu dipanaskan selama 90 menit dengan suhu 140°C. Larutan kemudian disaring untuk mendapatkan residu berupa padatan, lalu dilakukan pencucian dengan air sampai pH netral, kemudian dikeringkan dengan oven suhu 70°C selama 24 jam.
Khitosan memiliki sifat larut dalam suatu larutan asam organik, tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya seperti dimetil sulfoksida dan juga tidak larut pada pH 6,5. Sedangkan pelarut khitosan yang baik adalah asam asetat.
Pada saat ini khitosan banyak dimanfaatkan dalam bidang industri, perikanan, dan kesehatan di luar negeri, seperti untuk bahan pelapis, perekat, penstabil, serta sebagai polimer dalam bidang teknologi polimer.
Setelah khitosan diperoleh, pada dasarnya semua metode pengawetan kayu, yaitu metode pengawetan tanpa tekanan, metode pengawetan dengan tekanan, metode difusi, dan sap replacement method, bisa dipakai.
Aplikasi khitosan sebagai bahan pengawet kayu terbukti efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur pelapuk kayu dan beberapa jenis jamur lain, seperti Fusarium oxysporum dan Rhizoctania solani, serta meningkatkan derajat proteksi kayu terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah. Bahkan, kayu yang diawetkan dengan khitosan dengan metode perendaman teksturnya menjadi lebih halus.
Ini sesuai dengan sifat khitosan yang dapat membentuk lapisan film yang licin dan transparan. Hal tersebut menunjukkan bahwa khitosan memiliki potensi sebagah bahan finishing yang mampu meningkatkan tekstur permukaan kayu.
Untuk kayu-kayu berwarna terang, seperti nyatoh kuning, sengon, ramin, dan pinus, pengawetan dengan khitosan dapat meningkatkan penampilan kayu dalam hal warna kayu menjadi lebih terang. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh zat warna karotenoid yang terdapat pada udang. Namun, untuk mendapatkan hasil yang bagus, dalam proses pengawetan harus diperhatikan mengenai kondisi kayu, metode pengawetan, jenis bahan pengawet, perlakuan sebelum pengawetan terhadap kayu, dan konsentrasi bahan pengawet.
Dari segi lingkungan, penggunaan khitosan sebagai bahan pengawet kayu relatif aman karena sifatnya yang non toxic dan biodegradable. Sebab, selama ini bahan pengawet yang sering digunakan merupakan bahan kimia beracun yang kurang ramah lingkungan dan unbiodegradable.
Dari sisi ekonomi, pemanfaatan khitosan dari limbah cangkang udang untuk bahan pengawet kayu sangat menguntungkan karena bahan bakunya berupa limbah dan berasal dari sumber daya lokal (local content).
Untuk ekstrasi khitin dari limbah cangkang udang rendemennya sebesar 20 persen, sedangkan rendemen khitosan dari khitin yang diperoleh adalah sekitar 80 persen. Maka dari itu, dengan mengekstrak limbah cangkang udang sebanyak 510.266 ton, akan diperoleh khitosan sebesar 81.642,56 ton.
Jumlah yang sangat besar mengingat sebagian besar bahan pengawet kayu yang digunakan selama ini masih diimpor sehingga akan menghemat devisa negara. Untuk ke depannya, apabila limbah cangkang udang ini dikelola dengan teknologi yang tepat, akan menjadi alternatif bahan pengawet murah, alami, ramah lingkungan, dan bisa mendatangkan devisa negara jika diekspor ke luar negeri.
Karena pengawetan kayu dengan bahan pengawet alami, selain ramah lingkungan, juga menambah masa pakai kayu yang nantinya akan dapat menghemat penggunaan kayu secara nasional sehingga dapat mencegah terjadinya peningkatan kerusakan hutan dan membantu merealisasikan asas pelestarian hutan.

Sumber:

Indriyatmoko. Serba Serbi Budidaya Udang Vaname. http://www.bisnisukm.com [22 Desember 20009].

Prasetiyo, K.W. Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang. UPT Balai Litbang Biomaterial, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Museum Zoologicum Bogoriense


  Visi dan Misi:   Menjadi acuan dan pusat informasi terpercaya mamalia Indonesia   
Koleksi:   Indonesia memiliki sekitar 701 jenis hewan mamalia sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terkaya dalam keanekaragaman jenis mamalia.  Sampai saat ini (Juli 2009) koleksi ilmiah hewan mamalia terdiri dari sekitar 470 jenis (± 32.000 spesimen).  Kekayaan koleksi ilmiah mamalia ini merupakan kebanggaan bangsa Indonesia.  Koleksi ini sangat bermanfaat untuk kepentingan ilmiah antara lain: materi penelitian, bahan referensi, sumber data keragaman jenis dan bahan pendidikan 
Program :  
  1. Melakukan kajian biosistematika karakter hewan mamalia, inventarisasi dan evaluasi keberadaannya, dan potensinya.
  2. Peningkatan kapabilitas staff peneliti mamalia melalui penguatan kompetensi, kerjasama, pendidikan dan pelatihan
  Penelitian :   Laboratorium Mamalia melakukan penelitian yang mencakup biosistematika, keanekaragaman, sebaran dan potensi hewan mamalia yang bertujuan pada konservasi dan pendayagunaan secara berkesinambungan.  Puluhan jenis/anak jenis baru dan rekaman baru (new record) hewan mamalia telah dideskripsi oleh staff peneliti Laboratorium Mamalia.   Pelayanan dan Jasa  
  1. Identifikasi mamalia
  2. Konsultasi
  3. Pengawetan dan pembuatan spesimen ilmiah mamalia
  4. Pembibingan dan pengajaran
  5. Ceramah

Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, merupakan lembaga yang mempelopori penelitian dalam keilmuan fauna. Lembaga ini dulu dikenal dengan nama Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang didirikan oleh J.C. Koningsberger pada bulan Agustus 1894.

Sejak berdirinya sampai dengan tahun 1997, Bidang Zoologi menempati gedung bersejarah di dalam Kebun Raya Bogor, yang secara ilmiah merupakan kebun raya terkenal di dunia. Di dalamnya termasuk pameran umum, yang menyajikan keanekaragaman fauna Indonesia. Sejalan dengan perkembangan ilmu agar kegiatan penelitian dapat ditampung, maka Bidang Zoologi pindah dan menempati gedung baru di Pusat Ilmu Pengetahuan Cibinong (Cibinong Science Centre). Gedung yang diberi nama Widyasatwaloka ini dibangun dengan bantuan dana dari Pemerintah Jepang pada tahun 1997. Sedangkan fasilitas penyimpanan koleksi diadakan dengan bantuan dana GEF/Word Bank dalam rangka peningkatan kualitas dan pengelolaan koleksi ilmiah specimen bertaraf internasional. Demikian juga laboratorium genetika, biologi reproduksi dan nutrisi yang saat ini sudah berstandar dunia. Fasilitas baru ini meningkatkan perkembangan lebih lanjut dari Bidang Zoologi. Jumlah specimen yang dikoleksi untuk menunjang kegiatan penelitian biosistematika, ekologi dan fisiologi meningkat pesat.

Bidang Zoologi bertekad untuk menjadi lembaga pelopor yang mampu memberikan informasi ilmiah tentang fauna Indonesia.